Minggu, 03 Juli 2011

Precious LOVE :') (Part 2)



Rabu, 25 Januari 1995
Dada sesak, aku kesepian. Tak ada manusia yang dapat mengertiku. Mimpiku memang tak akan pernah menjadi nyata. Hidupku sudah diatur oleh orang tuaku. Ku coba hilangkan stress dengan merokok. Yah, aku merokok untuk pertama kalinya. Punting rokok pertamaku habis, dan yang kedua. Sialnya, Ayah dan Ibu melihatku. Yah kembali aku dimarahi dan untuk pertama kalinya kemarahan Ayah diwujudkan dengan cara memukulku dengan hanger pakaian. Aku merintih kesakitan sementara Ibu tak henti hentinya meneteskan air mata bualannya. Ibu kemudian menghentikan pukulan Ayah dengan berusaha melindungiku, pukulan itu mengenai Ibu, tapi Ibu lalu memelukku dan terus saja berkata “Ibu sayang kamu Lina, percayalah…” Ibu mengatakannya dengan tetesan air mata sambil merintih kesakitan akibat pukulan Ayah. Tapi aku tak percaya itu semua. Ibu sama saja Ayah, tetap membenciku. Itu pasti hanya acting untuk menutupi bahwa aku ini hanya anak tiri mereka. Aku yakin. Arggghhh…. AKU BENCI MEREKA Kamis, 26 Januari 1995
Hari ini aku masuk rumah sakit. Entah kenapa, tiba-tiba saja kepalaku sakit sekali dan dadaku sesak hingga sulit bernafas. Akhirnya aku pingsan pagi itu dan segera dibawah kerumah sakit. Saat tersadar, aku berada di ruang UGD dan disampingku ada Ibu yang belum juga tersadar. Ku dekati Ibu, wajahnya benar-benar pucat seperti tak ada aliran darah. Aku bingung, sebenarnya ada apa ini ?! Ayah tidak ada, ayah sibuk dengan pekerjaannya. Hingga pada malam hari, Ibu baru tersadar dengan kondisi yang begitu lemas. Ibu lalu memelukku tanpa alasan. Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua ini.

Jum’at 27 Januari 1995
Aku bangun dari tidur dan aneh, aku merasa lebih segar tidak seperti biasanya. Seperti aku baru saja terlahir kembali. Pagi-pagi, ibu sudah memasak seperti kedatangan tamu special. Berbaring hingga terlelap ditempat tidur hingga trtidur. Kaget ! Ternyata sudah siang. Akhirnya aku keluar dari rumah mencari segala aktivitas daripada tinggal dirumah yang sudah kuanggap neraka. Tak kulupa kunjungi bangku terminal itu. Aku yakin anak itu masih menunggu Ibunya. But, I wonder. Bangku terminal itu dikerumunin dengan banyak orang. Aku coba hampiri, dan ku lihat, anak itu meninggal. Aku shock melihatnya. Anak yang baru kemarin ku ajak bicara, kini sudah tiada. Ternyata benar, ia meninggal karena kelaparan. Makanan yang kuletakkan disampingnya, masih utuh. Pertama kalinya, yang keluar dari mataku, sebuah aliran sungai deras. Aku penasaran dengan surat yang digenggam nya, kutarik dari tangannya, dan kubaca. Judul surat itu “Mam, I love you”
“Hai Ibu. Ibu kemana saja ? Aku rindu sama Ibu. Maafkan aku bu, selama ini aku sadar telah membuat Ibu kecewa. Aku nakal, aku selalu mengabaikan nasehat Ibu. Aku selalu mengatakan ibu jahat. Aku selalu mengejek ibu. Tapi aku mau berubah bu. Kata orang-orang, Ibu sudah berada disurga, artinya Ibu sudah meninggal ? Orang-orang bilang Ibu meninggal karena aku. Ibu menyelamatkan ku ketika peristiwa tabrakan seminggu lalu didepan rumah. Itu pasti tidak benar… Aku tidak mau percaya. Aku setia menunggu Ibu disini. Aku sedih dan kesepian tanpa Ibu, Ibu kembali…. Pasti Ibu marahkan sama Sarah ? Maafkan Sarah :’(. Sarah benar-benar mencintai Ibu… :(“

Surat itu benar-benar menyentuh hatiku. Aliran sungai air mata ku tambah deras. Aku baru tau, ternyata Ibu anak ini, sudah meninggal.

Ibunya rela berkorban demi anaknya. Siapa duga, surat ini menyadarkan ku. Tanpa membuang waktu aku berlari menuju rumah dan apa yang kulihat ketika membuka pintu rumah, sebuah surprise, aku baru ingat. Ini adalah hari Ulang tahunku. Aku disambut oleh kedua orang tuaku dengan sebuah kue tart disertai lilin angka 17. Aku terharu, ternyata kedua orang tuaku tak melupakan hari ulang tahunku. Padahal aku sendiri lupa. Aku memeluk Ibu dan Ayah. Aku benar-benar bahagia. Aku rasa ini adalah hari pertama kebahagiaan ku telah kembali semenjak 9 bulan lamanya telah hilang :’). Ibu lalu memotong kue itu, kuperhatikan kuenya, dan kulihat sebuah kertas dibawah. Ku ambil diam diam dan kusimpan dikantung baju.

Tapi hari ini aneh, Ibu kelihatan pucat sekali. Aku khawatir dengan Ibu. Ku coba ceritakan kejadian tadi sore tentang anak itu. Entah mengapa, Ibu yang paling menghayatinya, hingga mata ibu memerah karena menangis. Sesaat kemudian, Ibu tiba-tiba saja jatuh pingsan. Aku dan Ayah panik. Ibu dibawa kerumah sakit.


to be continue.... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar